Kopaja Riwayatmu Kini


Kopaja


Sambil menunggu abang-abang supir taxi datang, sambil duduk-duduk di sisi trotoar Jalan Sudirman, ingin rasanya diri ini menulis sepenggal kisah mengenai Kopaja, memanfaatkan secarik foto yang sempat diambil saat berangkat ke kantor tadi pagi.🙂

Nyaris setiap hari kerja angkutan yang satu ini menjadi primadona untuk mengantarkan badan yang terkadang sudah lecek berhimpit-himpitan di dalam kereta agar dapat sampai ke kantor dengan tak kurang leceknya.. Ya, artinya Kopaja ini tak jauh beda dengan KRL yang penuh dengan orang-orang commuter yang saban hari berangkat dari pinggiran Jakarta menuju Pusat Kota.

Namun ada yang aneh di pagi hari tadi. Entah karena memang sayanya yang berangkat lebih siang atau karena kebetulan saja, tapi.. Kopaja yang saya naiki terbilang nyaman. Kopaja ini unik dimana jejeran kursi penumpang penuh tersusun ke belakang sampai deret paling akhir, memberikan lebih banyak tempat bagi penumpang untuk duduk. Kalau Kopaja yang lain, biasanya ada bagian yang sengaja tidak dipasangi kursi yaitu di bagian yang ada di depan pintu belakang. Bagian ini biasanya jadi tempat berjubelnya penumpang yang berdiri dan tempat favorit bagi copet untuk beraksi (based on true story). Sejenak sempat terheran-heran juga melihatnya, dan akhirnya diri ini pun berpikir, kenapa tidak semua Kopaja dibuat seperti ini ya.🙂

Kopaja bisa dikatakan lebih tertib dibanding Koantas (waah.. Kalau Koantas ini punya ceritanya sendiri :)). Kopaja saat ini sudah dilengkapi dengan kartu identitas pengemudi dan kernetnya yang dijepitkan di sisi depan bus dengan bagian depan kartu menghadap ke arah penumpang sehingga mudah terlihat. Bahkan baik supir maupun kernetnya pun sudah ada yang memakai seragam. Selain itu Kopaja masih bisa dikatakan lebih disiplin dalam berlalulintas, jauh lebih baik bila dibandingkan dengan Koantas yang ugal-ugalannya buat jantung dag dig dug serr.. ga karu-karuan. Bahkan sekarang Kopaja sudah ada yang memakai AC. Ga kebayang ide ini ternyata berhasil juga diterapkan. Walau dengan ongkos yang lebih mahal nyaris 3x lipat ongkos reguler namun ternyata Kopaja AC ini punya penggemar setianya sendiri.

Singkat kata Kopaja sudah melangkah lebih baik dari kebanyakan transportasi umum roda empat di Jakarta. Tinggal kita lihat apakah Metro Mini dan Koantas bakal mengikuti jejaknya atau enggan beranjak dari posisinya sekarang. Pemerintah pun harus bisa melihat perubahan ini dan segera menerapkannya untuk moda transportasi yang lain.

Sepenggal kisah ini dibuat dari pengalaman penulis sendiri yang kerap menaiki Kopaja 19 dan Koantas 102.🙂

About achmadaidil

//pribadi yang menampakkan sebagian kecil jati dirinya dan menyimpan bagian terbesarnya untuk dieksplorasi dan dibentuk sepuasnya// Sms 08170223635, BB: 3268423B

Posted on November 14, 2012, in simple thought and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: