Leader dalam Pemasaran NutriShake


Leader dalam Pemasaran NutriShake

Senangnya ngurusin badan sambil gemukin dompet, stamina terjaga, malah badan bertambah fit dan bertambah fit terus :p (www.sehattapikaya.tk)

It’s Only Dream!!!


Aku ga pernah percaya sama yang namanya mimpi. Apalagi kalau itu dijadikan sarana untuk mereka-reka masa depan. Tapi tadi malam benar-benar membuat aku kehilangan darah. Lemes rasanya melihat aqila harus “berakhir” di tangan dokter, atas persetujuan kami berdua. Ia masi kugendong setelahnya, dan masi sadar, hanya tinggal menunggu waktu saja.. Ia tersandar pasrah memelukku tanpa berkata-kata sedikitpun..

It’s only dream!!! It Couldn’t be real!!!

Pencarian


Pencarian akan makna persahabatan terus berlanjut .. .. ..

Choose the Right Battlefield


Mmm.. seringkali kita mungkin salah menduga dalam hidup ini. Mungkin ada sesuatu yang amat sangat kita inginkan dan ingin agar segera terwujud. Tapii.. siapa yang bisa memastikan bahwa kita sudah berada pada jalur yang benar, artinya apakah keinginan kita yang sangat besar itu sudah benar-benar sebegitu bernilainya untuk kita perjuangkan (mati-matian).

Ga ada yang bisa memastikan, kan? Nah.. mungkin kita hanya perlu terus mereview setiap langkah kita untuk mengetahui sudah seberapa tepatkah kita pada alur kompas perjalanan hidup kita. Jangan-jangan itu hanya keinginan sesaat, atau emosionalitas semata. Lantaran kita tidak senang melihat teman sejawat kita mendapat perhatian lebih, misalnya, lantas kita mati-matian untuk merebutnya.

Mmm.. mati-matian yaa? atau agak mati-matian deh.. 🙂 Apapun itu artinya kita sudah menceburkan diri untuk pasang badan untuk berlaga di suatu medan tempur yang mungkin tidak perlu kita lakukan. Nah lho, rugi banget kan kalau memang benar demikian.
Bukankah setiap insan itu terlahir pasti dengan membawa sejumlah peran dan tugas. Seiring dengan peran dan tugas tersebut, kita pasti dibekali juga dengan sejumlah potensi. Nah, potensi itu pasti juga sudah disiapkan tempat dan waktunya sama sang Pencipta agar dia dapat bekerja dan fungsional. Jadii.. Kita hanya perlu terus menggali dan menyadari potensi terbesar yang dianugerahkan Tuhan kepada kita.

Mungkin kita ga perlu berlaga di medan perang yang saat ini cukup menguras waktu dan tenaga kita. Mungkin kita hanya perlu mencari “laut biru” yang lain untuk kita gali dan kembangkan. Coba berpikir lebih luas dan berhenti sejenak dari apa yang terus-menerus kita lakukan. Apakah saya sudah berada di medan tempur yang benar?

Snakeskin Watch dari Oriflame. Gratiss!!


eTicketing Commuterline (Uji Coba)


Salah seorang penumpang mencoba sistem baru eTicketing

Salah seorang penumpang mencoba sistem baru eTicketing

eTicketing yang sudah sejak tahun lalu ditunggu2 para pengguna Commuterline jabodetabek akhirnya diujicobakan juga hari ini. Seru juga melihat tingkah laku calon penumpang yang masih kikuk dg sistem baru ini. Tidak hanya penumpang, tapi petugas stasiun pun terkena dampaknya. Lihat saja security penjaga pintu peron yang harus berupaya lebih mengajarkan calon penumpang bagaimana menggunakan tiket barunya. Begitu juga petugas tiket yang harus “ctak-ctuk” mengetik pesanan tiket di mesin kasir. :p

Ada sejumlah poin yang perlu diketahui calon penumpang dengan adanya perubahan sistem ini, di antaranya adalah saat membeli tiket, sampaikan dengan jelas stasiun tujuan Anda dan perhatikan tulisan yang tertera pada display monitor mesin kasir. Bila Anda salah menyebutkan stasiun tujuan, maka tiket tidak dapat dicancel. Selain itu, Anda pun hanya bisa turun di stasiun yang telah disebutkan tadi atau di stasiun-stasiun sebelumnya. Hal ini sempat membuat kerepotan beberapa orang calon penumpang KRL Serpong yang terbiasa menyebutkan stasiun Tanah Abang saat ia ingin ke stasiun Sudirman. Demikian ujar salah seorang petugas security peron.

eTicket ini sendiri hanya perlu ditapping atau didekatkan pada sensor saat kita hendak masuk peron stasiun. Saat kita ingin keluar dari stasiun tujuan, tiket harus dimasukkan pada slot mesin yang tersedia di pintu keluar peron. Menurut saya, sistem baru ini sudah sangat baik bahkan terlambat kalau baru sekarang diterapkan karena busway sudah beberapa tahun lebih awal menerapkannya (walaupun sekarang busway harusnya bisa mencontoh penerapan eTicketing di Commuterline yang saat ini terlihat lebih canggih).

Commet, eTicket Commuterline jabodetabek

Commet, eTicket Commuterline jabodetabek

5 tahun ke depan


Ingin apa aku 5 tahun ke depan?

Pertanyaan ini mungkin selayaknya aku tanyakan 5 tahun yang lalu agar aku bisa melihat sendiri apa saja yang sudah kukerjakan dalam 5 tahun terakhir ini.

5Puas?? Hooo.. tentu tidak. Tapi penuh syukur karena setidaknya beberapa hal menakjubkan telah kualami dan bahkan mungkin di luar ekspektasi aku sebagai seorang manusia “biasa”.

Tapi kalau pertanyaan ini aku lontarkan untuk saat ini akan jadi apa aku 5 tahun ke depan. Maka jawabanku adalah aku akan memiliki keluarga yang Hebat, karier yang mantap, dan pondasi ekonomi keluarga yang kuat. Dengan uluran tangan dari Tuhan dan tekad yang kuat untuk pantang menyerah dan pikiran yang terbuka untuk senantiasa belajar dan tanggap akan peluang yang terbentang, insya Allah, itu semua akan terwujud.

Bro.. masih belum konkrit itu! Apa kriteria Hebat, apa ciri Mantap, apa tanda kalau sudah Kuat?

Indikator pencapaiannya ada pada diri ini sendiri, 5 tahun yang akan datang dialah yang lebih tahu apa jawabannya.

hati yang lembut


seandaikata ia tahu
kalau aku sudah memaafkannya.
aku cuma menunggu kesungguhannya.
itu saja.

benarkah ia sepenuh hati menyesali.
benarkah ini tidak akan terjadi lagi.
terlalu dalam luka sayatan di hati
akibat apa yang sudah terjadi

aku ingin lihat egonya ditundukkan.
aku ingin lihat ia rela terima hukuman.
aku ingin dengar ia mengatakan
“apa yang harus kulakukan agar aku dimaafkan?”.

tapi bila untuk mengucapkan kata “sayank” saja tidak mau, kini aku jadi ragu.

seandaikata ia tahu
kalau aku selalu menunggu
setiap dering dan getaran
kuharap itu
kamu… sayank

Kala itu Datang


kala sedih itu nyata
kala bimbang itu bicara
kala hati yang luka meminta
kala tubuh yang lemah tak kuasa
kala sepi menjadi purwa rupa
akan ke mana diri ini kan dibawa

kala kebingungan bercerita
kala kepayahan menjadi panglima
kala keshalehan dibuang percuma
kala kesantunan sudah tak lagi berharga

atas sebab apa
diri ini pun bertanya
atas sebab pintu yang diam tak bersuara
lebih baik mati daripada merana
tersiksa batin tak lagi dianggap ada

ikhlasku..
nafasku..
hadirku..

…masihkah ia berarti bagimu?

sapaanku pada malam,
bukankah engkau adalah naungan,
perlindungan dan pelukan
bagi kami yang terabaikan?
maka hanyutkan kami malam ini
tapi damparkan kami keesokan hari
agar kami yang ada di sini
dapat bahagia suatu saat nanti

Kopaja Riwayatmu Kini


Kopaja


Sambil menunggu abang-abang supir taxi datang, sambil duduk-duduk di sisi trotoar Jalan Sudirman, ingin rasanya diri ini menulis sepenggal kisah mengenai Kopaja, memanfaatkan secarik foto yang sempat diambil saat berangkat ke kantor tadi pagi. 🙂

Nyaris setiap hari kerja angkutan yang satu ini menjadi primadona untuk mengantarkan badan yang terkadang sudah lecek berhimpit-himpitan di dalam kereta agar dapat sampai ke kantor dengan tak kurang leceknya.. Ya, artinya Kopaja ini tak jauh beda dengan KRL yang penuh dengan orang-orang commuter yang saban hari berangkat dari pinggiran Jakarta menuju Pusat Kota.

Namun ada yang aneh di pagi hari tadi. Entah karena memang sayanya yang berangkat lebih siang atau karena kebetulan saja, tapi.. Kopaja yang saya naiki terbilang nyaman. Kopaja ini unik dimana jejeran kursi penumpang penuh tersusun ke belakang sampai deret paling akhir, memberikan lebih banyak tempat bagi penumpang untuk duduk. Kalau Kopaja yang lain, biasanya ada bagian yang sengaja tidak dipasangi kursi yaitu di bagian yang ada di depan pintu belakang. Bagian ini biasanya jadi tempat berjubelnya penumpang yang berdiri dan tempat favorit bagi copet untuk beraksi (based on true story). Sejenak sempat terheran-heran juga melihatnya, dan akhirnya diri ini pun berpikir, kenapa tidak semua Kopaja dibuat seperti ini ya. 🙂

Kopaja bisa dikatakan lebih tertib dibanding Koantas (waah.. Kalau Koantas ini punya ceritanya sendiri :)). Kopaja saat ini sudah dilengkapi dengan kartu identitas pengemudi dan kernetnya yang dijepitkan di sisi depan bus dengan bagian depan kartu menghadap ke arah penumpang sehingga mudah terlihat. Bahkan baik supir maupun kernetnya pun sudah ada yang memakai seragam. Selain itu Kopaja masih bisa dikatakan lebih disiplin dalam berlalulintas, jauh lebih baik bila dibandingkan dengan Koantas yang ugal-ugalannya buat jantung dag dig dug serr.. ga karu-karuan. Bahkan sekarang Kopaja sudah ada yang memakai AC. Ga kebayang ide ini ternyata berhasil juga diterapkan. Walau dengan ongkos yang lebih mahal nyaris 3x lipat ongkos reguler namun ternyata Kopaja AC ini punya penggemar setianya sendiri.

Singkat kata Kopaja sudah melangkah lebih baik dari kebanyakan transportasi umum roda empat di Jakarta. Tinggal kita lihat apakah Metro Mini dan Koantas bakal mengikuti jejaknya atau enggan beranjak dari posisinya sekarang. Pemerintah pun harus bisa melihat perubahan ini dan segera menerapkannya untuk moda transportasi yang lain.

Sepenggal kisah ini dibuat dari pengalaman penulis sendiri yang kerap menaiki Kopaja 19 dan Koantas 102. 🙂

%d bloggers like this: